Rencana Pertamina Produksi BBM Berbasis Minyak Sawit

PT Pertamina (Persero) miliki konsep untuk produksi bahan bakar minyak (BBM) berbahan baku yang ramah lingkungan di era depan.

VP Strategic Planning Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional Prayitno mengatakan, pihaknya dapat memodifikasi salah satu unit Kilang Cilacap, Jawa Tengah untuk produksi 100% minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO). Dia mengatakan, dapat ada dua tahap produksi bahan bakar hijau (green fuel) di sana.

Tahap pertama, dapat produksi minyak sawit setara 3.000 barel per hari (bph) atau kurang lebih 477 kilo liter (kl) per hari. Lalu fase 2 dapat produksi setara 6.000 bph, yang bermakna kapasitas dapat meningkat dua kali lipat.

Selain Kilang Cilacap, pihaknya termasuk dapat melakukan hal serupa di Kilang Plaju, Sumatera Selatan, tapi bukan modifikasi, melainkan membangun baru kilang hijau.

“Kalau di Plaju ini bukan modifikasi, tapi kami rencanakan bangun baru biorefinery, kapasitas 20.000 bph dengan bahan baku CPO. Kalau berasal dari segi kilo liter per harinya itu kurang lebih 3.180 (kl),” tuturnya di dalam acara ‘Katadata Forum Virtual Series: Peluang Minyak Jelantah Sebagai Alternatif Bahan Baku Biodiesel dengan Kalibrasi Flow Meter

Dia menjelaskan, Pertamina udah terasa melakukan uji cobalah produksi CPO menjadi green diesel sejak Desember 2014, dengan komposisi minyak sawit sebesar 7,5%. Kemudian, pada Januari 2019 dilakukan ulang uji cobalah produksi CPO menjadi green diesel di Kilang Dumai, Riau dan ditingkatkan porsinya menjadi 12,5%. Artinya, 12,5% CPO dicampurkan dengan bahan bakar fosil (fossil fuel) di kilang yang udah ada.

Lalu, pada Juli 2020 Pertamina udah mampu produksi 100% CPO menjadi green diesel di Kilang Dumai.

Prayitno menyatakan bahwa 100% CPO ini benar-benar tanpa campuran fossil fuel. Produknya kini dikenal dengan D100.

“Tahun 2020 di Juli Alhamdulillah kami mampu produksi 100% CPO menjadi green diesel. Produknya adalah D100,” ujarnya.

Kemudian, berasal dari segi produksi bensin hijau (green gasoline), menurutnya Pertamina udah melakukan uji cobalah di Kilang Plaju. Pertamina menginjeksikan turunan produk minyak sawit (RBDPO) sebesar 15% pada 2019, lantas pada 2020 naik menjadi sebesar 20%.

Uji cobalah serupa menurutnya termasuk dilakukan di Kilang Cilacap dan berhasil di tingkat pencampuran sawit kurang lebih 13%.

“Konsepnya sama, Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO)-nya dicampur dengan fossil fuel, diolah di kilang yang udah kami punya,” jelasnya.